Pintu Nabawi: Nilai Historis Pintu Masjid Nabawi  

Posted by Jogja Seni in

Nilai historis Pintu Nabawi : Setelah masjid diperluas, makam Nabi, Abu Bakar dan Umar dimasukkan ke dalam bangunan masjid. Pada bangunan ini terdapat empat buah pintu, yaitu :

    Pintu Nabawi di sebelah kiblat, dinamakan At-Taubah.
    Pintu Nabawi di sebelah timur, dinamakan Fatimah.
    Pintu Nabawi di sebelah utara, dinamakan Tahajjud.
    Pintu Nabawi di sebelah barat ke Roudloh sudah ditutup.


PUSARA NABI MUHAMMAD SAW. Pusara Nabi Muhammad SAW terletak di sudut timur Masjid Nabawi yang dahulu dinamakan Maqshurah. Di situ dahulu terdapat dua rumah, yaitu rumah tangga Nabi Muhammad SAW dengan Siti Aisyah dan rumah Ali dengan Siti Fatimah RA. Setelah Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 H (632 M) rumah Nabi terbagi dua, yaitu bagian arah kiblat (selatan) untuk makam Nabi dan yang sebelah utara untuk tempat tinggal Siti Aisyah RA. Sejak tahun 678 H (1279 M) di atasnya dipasang Kubah Hijau (Green Dome) sampai sekarang.

Jadi persis di bawah Green Dome inilah jasad Rasulullah SAW dimakamkan. Kalau kita melihat Green Dome berarti melihat makam Nabi. Dan tentu juga makam kedua sahabat beliau, yaitu Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khattab RA yang lalu dimakamkan di bawah kubah itu yang berdampingan dengan makam Nabi. Maka lokasi dimana dahulu terdapat rumah Nabi kini dijuluki ‘makam tiga manusia mulia’. Kalau kita sedang berada di Roudloh dan menghadap kiblat, pusara Nabi berada di sebelah kiri kita, yaitu bangunan persegi empat berwarna hijau tua yang anggun berwibawa dan menebarkan bau wangi-wangian.

Sejarah Kriya Logam  

Posted by Jogja Seni in

Sejarah kriya logam dimulai pada saat manusia belum mengnal tulisan, tepatnya pada zaman logam yang memunculkan Budaya perundagian atau budaya logam ( logam disini diartikan dengan perunggu, tembaga, kuningan, emas, perak dan besi, karena di Indonesia tidak dilewati oleh kebudayaan logam) adalah jenis kebudayaan dari masyarakat pra-sejarah yang menggunakan logam dalam pembuatan benda-benda dan seni kriya logam untuk melengkapi kebutuhan hidupnya. Meski benda kriya logam yang dibuat tidak terlalu banyak karena pada saat itu belum terdapat alat dan bahan yang banyak, tetapi hasil karya yang dibuat pada zaman logam tersebut tidak kalah bagusnya dengan seni kriya yang ada pada masa sekarang yang moderen karena seni kriya pada masa tersebut memiliki nilai artistik (seni) dan nilai sejarah yang sangat indah.    Kebudayaan ini diperkirakan mulai berkembang sekitar 500 SM. Contoh peninggalan seni kriya logam pada zaman logam yang dapat kita temui antara lain kapak corong, candrasa, nekara, moko, topeng emas, serta bejana.